Feed on
Posts
Comments

Dilahirkan sebagai anak bungsu membuat saya terkadang benci kekalahan. Benci, bukan berarti tidak bisa terima. Bisa terima, tapi dengan rasa benci. Biasanya hal tersebut dipicu oleh dua keadaan:
1. Ketika saya bisa melakukannya, tapi melakukan dengan tidak sepenuh hati, sehingga saya kalah dengan orang yang bersungguh-sungguh
(saya akan benci pada diri sendiri mengapa bisa begitu malas)
2. Ketika saya melakukannya dengan segenap upaya, tapi saya kalah dengan orang lain dengan bakat luar biasa tapi melakukannya dengan biasa saja
(saya akan benci pada diri saya sendiri mengapa tidak punya bakat)
Selain dua hal tersebut, ternyata masih ada hal yang menyakitkan yang kini sedang saya alami. Kalah sebelum bertanding, istilahnya.
Jika diumpamakan kira-kira seperti ini:
Suatu hari kau berjalan-jalan dan melewati sebuah etalase dengan patung Michaelangelo terpampang di depannya. Kau mau dan mampu untuk patung itu. Tetapi begitu kau membuka pintu toko, seseorang menyenggol patung dan membuatnya hancur berantakan. Jangankan mendapatkannya, menyentuhnya saja tidak sempat.
Perasaan yang timbul akan berbeda jika kau kalah dalam hal tawar menawar patung dengan pelanggan lain. Setelah selesai bisa jadi kita tidak tertarik lagi pada si patung.
Tapi ketika patung hancur, tak ada lagi upaya yang bisa kita lakukan lagi. Mengumpulkan serpihan pecahan dan menyusunnya kembali? Tidak mungkin pula menyuruh Michaelangelo membuat patung yang sama lagi. Di detik patung itu hancur, kau tahu bahwa hatimu hancur bersamanya.
Lagi-lagi saya akan menyalahkan diri sendiri
“mengapa saya tidak datang lebih cepat?”, atau
“mengapa saya harus melewati toko itu dan melihatnya?”
Ah..
Manusia, semakin sesuatu tidak terjangkau, semakin pula ia menginginkannya.

Kutipan of the day:
‘what happens when an unstoppable object hits an unmovable object?’
-Joker-

I Love Monday

“Endurance is not built in one day”, begitu kata slogannya.
Tapi entah kenapa rasanya latihannya semakin berat saja.. kapan saya bisa mencapai endurance itu yah?? Senin kemarin di’hajar’ habis-habisan sama Shinta sampai keringat bercucuran, apalagi ditambah dengan pose yoga seperti burung ini, namanya Eka Pada Koundiyanasana I. Jangan kira saya bisa melakukannya yah.. Haha.. Tapi dapet ‘penghargaan’ dari Tommy sudah membuat saya cukup senang kok.. Hmm.. mungkin lain kali harus turun tingkat dulu berlatih ke Gentle Flow..

null

Buat yang tertarik, bisa melakukannya sendiri. Cara-caranya saya ambil dari situs yogajournal.com

Di pintu bis 46 sepulang kantor.
“Arie..!?”, sapa seorang perempuan berjilbab dan berkacamata.
Wajahnya familiar.. tapi.. rasanya dejavu dengan keadaan seperti ini
“Lupa ya? Gue anak 2-H”
Oh, shit.. gue memang lupa..
Akhir-akhir ini kok jadi sering bertemu anak 78. Tapi tak ada satupun yang diingat namanya. Sampai di rumah saya langsung membuka buku tahunan. Semoga lain waktu sayalah yang pertama menyapa mereka.
Hiks.. Maaf ya kawan atas ingatan mas kokiku ini..

23rd Birthday

Hari-hari menjelang ulang tahunku diawali dengan dua sms komplong dari sahabat dekat. Yang pertama tanggal 3 Juli, jam 00:34 dari Susan, kedua tanggal 6 Juli dari Arfa. Kekomplongan dari keduanya adalah, mereka mengucapkan selamat di hari dan tanggal yang salah! Langsung diralat oleh si pengirim tentunya.. tapi tetap saja membuatku terheran-heran.

Momen kedua yang menyenangkan adalah acara traktiran Bang Gandjar di Urban Kitchen, Pacific Place, bersama 2k3 pada 8 Juli malam. Meskipun traktirannya tidak ada hubungan sama sekali dengan ulang tahun, yah.. anggap saja ini pre-anniversary.. khukhukhu..

Mengutip sms temen saya: may this brand new age bring maturity to face this life wisely

Saat berakhir pekan ke Bandung kemarin, saya mendapat minuman secara cuma-cuma dari bis yang saya tumpangi (pegawai bis-nya tentu saja yang memberi, bukan bis-nya)
Tapi ketika mau minum, om saya melarang.
Jangan, liat tuh, ngga ada badan POM-nya. Minumannya bikinan sendiri. Kali aja aer-nya jga bikinan sendiri“, katanya.
Saya dapat pelajaran baru lagi: selalu perhatikan kemasan minuman!
Maklum, selama ini ngga pernah minum yang aneh-aneh, jadi tidak pernah memperhatikan.
Setelah capek jalan-jalan, kebetulan saya minum Okky Jely Drink. Iseng saya perhatikan kemasannya.
BPOM.. Ada..
Expired Date..
Komposisi..
lalu..
“mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita fenilketonurik..”
nah loh.. apa pula ini?
Balik ke Jakarta saya googling di kantor.
Maaf ya kantorku, saya tidak magabut kok..Ini kan demi kepentingan umat manusia..Kali aja nanti dateng klien mau konsultasi soal ini, atau mau nuntut si perusahaan gara-gara penyakitnya kambuh.. ya tho?
Ini yang saya dapat:

Fenilketonurik berarti gangguan fungsi ginjal dan hati, yang merupakan suatu kelainan genetik dimana orang itu tak punya enzim fenilalanin hidroksilase (enzim pencerna fenilalanin). Sedangkan fenilalanin itu sejenis senyawa kimia asam amino. Penggunaan pemanis buatan sangat berbahaya bagi penderita penyakit ginjal ataupun hati karena mengkibatkan kadar fenilalanin darah seseorang mudah naik. Jika terlalu tinggi, bisa menyebabkan gangguan otak dan hiperaktif. Sebenarnya penyakit jenis ini sangat langka, di Amerika hanya 1:15.000 orang yang mengalaminya. Di Indonesia sih saya tidak tahu, dengar namanya saja baru hari ini.

Yang memprihatinkan adalah kenyataan bahwa masyarakat masih banyak yang belum memiliki kesadaran mengenai pentingnya hal ini (saya salah satunya..). Padahal informasi melalui label mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain diperlukan agar masing-masing individu dapat menentukan pilihan sebelum mengkonsumsinya secara tepat sesuai kebutuhan. Lihat saja, saat ini hampir tidak ada produk yang menggunakan gula pasir biasa sebagai pemanis. Tetapi jarang ada yang mencatumkan tulisan “berbahaya bagi penderita fenilketonurik”, atau bahkan tidak mencantumkan tulisan menggunakan pemanis buatan, melainkan hanya mencantumkan nama kimia pemanis buatan yang digunakannya. Banyaknya makanan dan minuman yang beredar di masyarakat tanpa ketentuan pencantuman label, atau justru penipuan pada label merupakan suatu permasalahan serius. Kasus keracunan makanan yang marak terjadi adalah akibatnya. Jangan pula mengkonsumsi produk aneh-aneh dan ditulis dengan bahasa asing. Peraturan Pemerintah 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan sendiri telah mewajibkan agar label ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan atau huruf Latin. Ketentuan ini berlaku mengikat tidak hanya terhadap pangan yang diproduksi di dalam negeri, namun berlaku juga terhadap pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan. Jadi berbanggalah dengan bahasa sendiri saat ingin mengkonsumsi sesuatu ;p.

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah legalitas produk, yaitu dilihat dari nomor pendaftaran pada Departemen Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nomor tersebut berupa nomor MD (untuk makanan dalam negeri) atau ML (untuk makanan luar negeri/impor). Beberapa produk hasil industri kecil biasanya hanya mencantumkan nomor SP (sertifikat penyuluhan) atau IRT (industri rumah tangga).

Saatnya memperhatikan apa yang anda konsumsi.

You are what you eat, are’nt you?

 

Thanks to:
Beedevi.multiply.com
Gayahidupsehatonline.com
Pintunet.com

 

 

Perkenalan Kembali

Kamis malam, di Hoka-hoka Bento KC.
“Haii.. anak 78 kan?” sapa seorang perempuan berjilbab
Gue kenal kok ni orang. Anak 78. Sekelas bahkan. Dulu ngga pake jilbab. Kayaknya sedikit preman.. Namanya.. Namanya.. Namanya..
Semakin saya mengingat namanya, semakin pula nama itu hilang.
“Ehee.. sori gue lupa nama lo”
“Ehm, Sebenernya gue juga sih. Gue cuma inget lo anak 78″
Terdiam sejenak lalu tertawa bersama. Akhirnya dua orang aneh itu berkenalan kembali. Maklum deh, 78..

Buat anak-anak teknik dan politeknik pasti tahu acara ini. Kalau ternyata Anda adalah termasuk salah satunya tetapi tidak tahu, berarti Anda orang yang kurang beruntung, dan beruntunglah saya beritahu Anda. Kontes robot tahun ini adalah untuk menyeleksi Tim Indonesia yang akan mengikuti kontes robot tingkat Internasional ABU ROBOCON 2008 yang akan berlangsung di Pune, India, pada tanggal 31 Agustus 2008. Seleksi Regional telah dilakukan bulan Mei lalu, yaitu di empat wilayah Indonesia antara lain Pekan Baru, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Para pemenang dari kontes regional inilah yang sekarang bertanding di kontes nasional tanggal 14-15 Juni 2008.

Menjadi salah satu bagian (yang sangat kecil) dari acara ini merupakan kebanggaan sekaligus kesenangan tersendiri. Waktu kontes regional, saya terpaksa meninggalkan acara Fun Belly Dance bersama majalah Fit. Saat kontes tingkat nasional pun saya sampai bela-belain ke Depok langsung dari kantor. Bisa dibayangkan bagaimana kemacetan yang saya alami. Jika belum bisa membayangkan, silahkan coba sendiri naik angkutan umum Jakarta-Depok ketika jam pulang kerja. Tingkat kerumitan kepanitiaannya pun berbeda dari kepanitiaan acara-acara lain. Posisi sebagai Liaison Officer Sekretariat dapat membuatmu menjadi gurita bertangan delapan dalam semalam sekaligus menjadi burung hantu yang melek tengah malam. Tapi toh masih tetap menyenangkan dan memuaskan bagi tipe workaholic seperti saya ini. Ini baru LO-nya, entah bagaimana Sekretariat inti yang kerjanya sangat canggih itu. Kesenangan ini juga ditambah dengan rasa melepas rindu melihat para peserta dari berbagai daerah yang tak sempat lagi saya kunjungi. Karena saya tak juga berkunjung, jadi mereka yang datang berkunjung.

  • Bagi yang ingin mengenal lebih dalam mengenai KRI&KRCI, silahkan klik di sini

Tentang Mal

Akhir pekan ini saya habiskan di sebuah mal di Jakarta Selatan dengan dua orang teman SMU. Rencana dadakan yang selalu sukses diadakan. Obrolan ngalor-ngidul pun akhirnya sampai pada perihal mal. Ada banyak sekali mal di Jakarta, tapi entah kenapa selalu ramai dikunjungi. Kami yang waktu itu duduk sebelah kaca di suatu restauran mulai memperhatikan abg-abg yang lalu-lalang. “Berasa tua gue kalo ke mal”, celetuk teman saya yang awalnya protes kenapa mal menjadi tempat pertemuan kami saat itu. Sepertinya dulu pun saya merasa mal adalah tempat yang menyenangkan. Tapi sekarang pun saya malas ke mal kecuali ada yang ingin di beli atau ada keperluan tertentu seperti pertemuan saat itu. “Kalau dulu mah mal asyik karena buat bolos sekolah”, komentar teman saya satu lagi. Mungkin benar juga. Kok dulu bisa-bisanya saya meng-hura-hura-kan waktu dengan kegiatan tidak penting seperti itu ya?

Kejadian Aneh di Mal
Berhubung gym saya letaknya di lantai atas sebuah mal besar di Jakarta, otomatis hampir setiap hari saya pun sebenarnya mengunjungi mal. Ada dua kejadian lucu yang saya alami di satu mal ini dalam kurun waktu satu bulan. Yah, sebenarnya ada lebih dari dua, tetapi sisanya tidak bisa saya ceritakan, hahaha.
Kejadian pertama berlangsung sekitar dua minggu lalu. Suatu sore yang sepi ketika saya sedang menunggu lift menuju lantai 4, datang seorang wanita muda yang masih lebih tua dari saya.
“Saya kelihatan abis nangis ngga, mbak?”
“Ha?”
“Saya kelihatan abis nangis ngga, mbak?” ulangnya lagi sambil menggerakkan tangannya memutar ke seputar wajahnya
“Oh, ngga kok”
Pintu lift terbuka. Kami masuk.
Saya menekan tombol L4, dia L3.
“Soalnya tadi saya habis nangis. Pacar saya ninggalin saya. Mana dia belum tau kalau saya baru saja keluar dari kerjaan.. dst.. dst..”
Semua curhatannya keluar begitu saja selama beberapa detik dari lantai G menuju L3.
Saya pun hanya bisa manggut-manggut saja, sekedar memberitahunya bahwa saya sedang mendengarkan.
Pintu lift terbuka.
“Makasih ya, mbak”
“Sama-sama” jawab saya masih terheran-heran.

Kejadian kedua baru saja berlangsung beberapa hari kemarin. Saya pun juga sedang menunggu lift menuju lantai 4. Kemudian datang seorang wanita bersama seorang anak laki-lakinya usia SD, memegang sebuah kertas bertuliskan alamat sambil kebingungan.
“Mau ke mana, bu?”, tanya saya karena keisengan yang luar biasa.
Ditunjukkanlah alamat tersebut. Kamar apartemen yang terletak di atas mal.
“Anterin saya ya mbak. Saya belum pernah ke sini seumur-umur”, pintanya.
Saya sendiri juga belum pernah ke apartemen ini, tapi mau bagaimana lagi. Jadilah siang itu saya mengantar sang ibu dan anak ke apartemen temannya yang terletak di lantai 31.
Mungkin saya memang sebaiknya naik eskalator saja ya..

Ditolak? Tentu menyakitkan
Ditolak kedua kali? Menyebalkan!
Bukan..bukan.. Ini bukan mengenai pria.
Hari Rabu kemarin ketika sedang ingin melakukan donor darah rutin, saya mengalami penolakan. Dan ini bukan yang pertama kalinya, karena sekitar tiga minggu sebelumnya (hari Rabu pula!) saya juga ditolak menjadi pendonor. Pengalaman pertama penolakan sangat meninggalkan kesan. Kesan shock maksudnya. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun menyumbang darah, ternyata darah saya yang gratis ini malah tidak diterima. Pada dua kesempatan itu saya ‘divonis’ mengalami kadar Hb rendah yang tidak sampai 11, dimana batas normalnya adalah 12. Padahal setelah penolakan pertama yang menyakitkan itu, saya berusaha tidak terlalu capek. Bahkan sampai mengkonsumsi suplemen penambah darah dan jadi hobi mengkonsumsi pisang yang konon katanya banyak mengandung zat besi. Saking inginnya donor saya sempat berkata, “Kalo saya istirahat dan makan siang, trus balik lagi ke sini, Hb-nya bisa naik ngga?”. Mas-masnya cuma tertawa perlahan. Entah dia berpikir ada yang salah dengan pemikiran saya, atau justru dia sendiri tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Akhirnya iseng-iseng saya browsing mengenai si Hb ini.

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. (www.wikipedia.com)
[Sambil manggut-manggut] Ooo.. Begitu rupanya.. (sok tahu mode:on)

Hemoglobin (Hb) yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen dari paru ke bagian tubuh lainnya. Eritrosit, hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) yang sangat rendah menunjukkan adanya anemia, yaitu sel tidak mendapat cukup oksigen untuk berfungsi secara normal. Jika kita anemia, kita sering merasa lelah dan terlihat pucat. (http://spiritia.or.id/)
Saya mungkin pucat, tapi tidak pernah merasa lelah. Mungkin karena kadar adrenalin yang cukup tinggi. Sayang di lembar tes darahnya tidak terukur..

Hemoglobin berfungsi mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh seperti otot, jantung, usus, otak dan lain-lain. Artinya, kalau kadar HB berkurang, tentu akan mengurangi jumlah pasokan oksigen ke semua organ tubuh, sehingga bisa mengganggu kerja organ tersebut. Misalnya kalau pasokan oksigen ke otak kurang, tentu kerja otak seperti berpikir atau konsentrasi juga akan terganggu. (http://www.tabloidnova.com)
Hmm..Kerja otak yang terganggu yha..Sepertinya dari dulu sudah seperti itu..Haha..

Dapat tugas baru deh untuk bulan ini: menaikkan Hb! Sepertinya selama satu bulan, setiap hari saya harus makan ati, bayam, dan pisang..

PertamaX

Selamat datang pada saya di dunia blog..
Blog ini hanya berisi tulisan-tulisan biasa, yang seperti biasa saya tulis di blog terdahulu, berbeda dengan blog-blog teman saya yang isinya profesional. Bukannya saya tak ingin. Jika dalam tingkatan kemauan, kesadaran, dan kemampuan, saya ini hanya punya suatu kemauan, setengah kesadaran, dan tak ada kemampuan. Saya sendiri masih amatir mengenai masalah hukum maupun sosial, jadi belum mampu membuat yang seperti mereka buat. Mungkin nanti. Entah kapan.
Blog ini pun saya buat karena tergiur untuk menjadi lebih profesional dalam menulis. Account-nya sudah saya buat semasa kuliah, tapi karena satu dan lain hal, tidak pernah terisi. Di sini saya mencoba menggunakan penyebutan ’saya’, menggantikan yang dahulu menggunakan ‘gue’ (apakah ini membuat saya menjadi sedikit lebih profesional??). Mungkin jika suatu saat saya jengah memanggil diri sendiri sebagai ’saya’, maka saya akan kembali lagi menggunakan kata ‘gue’.
Saya senang membaca blog orang. Meskipun pun sering bingung -dan sangat jarang- mengisi komentar. Pun jika ada yang memberi komentar pada blog saya juga jarang saya jawab. Blog ini hanya salah satu dari sekian banyak blog yang bisa dianggap sampah. Mungkin orang meliriknya pun malas. Sama malasnya seperti ketika saya melirik harga pertamax yang semakin meningkat.