Dilahirkan sebagai anak bungsu membuat saya terkadang benci kekalahan. Benci, bukan berarti tidak bisa terima. Bisa terima, tapi dengan rasa benci. Biasanya hal tersebut dipicu oleh dua keadaan:
1. Ketika saya bisa melakukannya, tapi melakukan dengan tidak sepenuh hati, sehingga saya kalah dengan orang yang bersungguh-sungguh
(saya akan benci pada diri sendiri mengapa bisa begitu malas)
2. Ketika saya melakukannya dengan segenap upaya, tapi saya kalah dengan orang lain dengan bakat luar biasa tapi melakukannya dengan biasa saja
(saya akan benci pada diri saya sendiri mengapa tidak punya bakat)
Selain dua hal tersebut, ternyata masih ada hal yang menyakitkan yang kini sedang saya alami. Kalah sebelum bertanding, istilahnya.
Jika diumpamakan kira-kira seperti ini:
Suatu hari kau berjalan-jalan dan melewati sebuah etalase dengan patung Michaelangelo terpampang di depannya. Kau mau dan mampu untuk patung itu. Tetapi begitu kau membuka pintu toko, seseorang menyenggol patung dan membuatnya hancur berantakan. Jangankan mendapatkannya, menyentuhnya saja tidak sempat.
Perasaan yang timbul akan berbeda jika kau kalah dalam hal tawar menawar patung dengan pelanggan lain. Setelah selesai bisa jadi kita tidak tertarik lagi pada si patung.
Tapi ketika patung hancur, tak ada lagi upaya yang bisa kita lakukan lagi. Mengumpulkan serpihan pecahan dan menyusunnya kembali? Tidak mungkin pula menyuruh Michaelangelo membuat patung yang sama lagi. Di detik patung itu hancur, kau tahu bahwa hatimu hancur bersamanya.
Lagi-lagi saya akan menyalahkan diri sendiri
“mengapa saya tidak datang lebih cepat?”, atau
“mengapa saya harus melewati toko itu dan melihatnya?”
Ah..
Manusia, semakin sesuatu tidak terjangkau, semakin pula ia menginginkannya.
Kutipan of the day:
‘what happens when an unstoppable object hits an unmovable object?’
-Joker-








